| -- Sumber : Istimewa -- |
Hallo apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat dan bahagia bersaya orang-orang tersayang
Sudah lebih dari 10 tahun aku buka rekening sekuritas di Mandiri Sekuritas, dan inilah kisah investasiku bersama Mandiri Sekuritas.
Semester 2 tahun 2008 setelah lulus kuliah aku diterima sebagai salah satu pegawai di sebuah bank BUMN melalui jalur management trainee. Setelah menempuh Pendidikan selama setahun, tibalah saatnya aku mulai benar-benar bekerja. Bersyukur di awal kerja dapat lingkungan dan senior yang melek investasi. Selain terkait pekerjaan mereka juga mengajarkan saya untuk investasi di instrument logam mulia dan saham. Setiap kali dapat penghasilan diluar gaji bulanan (uang cuti, THR, bonus) para senior selalu mengajak untuk menyisihkan sebagian untuk dibelikan logam mulia. Di sela-sela kesibukan para senior masih menyempatkan diri untuk memantau pasar modal melalui website MOST. Suatu hari di tahun 2010 Mandiri Sekuritas mengadakan pameran di kantor dan menawarkan promo yang cukup menarik. Pada waktu itu pembukaan rekening belum se fleksibel sekarang. Setoran awal minimal 5 juta itupun karena ada promo, kalau normal minimal 10 juta. Karena melihat senior yang sudah duluan, aku memutuskan untuk melakukan pendaftaran Mandiri Sekuritas dengan modal awal 5 juta.
Perjalanan di dunia pasar modalpun aku mulai sekitar tahun 2010 dimana 1 lot saham adalah 500 lembar, butuh modal cukup besar untuk membeli saham apalagi yang bluechip. Waktu itu edukasi saham belum sebanyak sekarang, istilahnya waktu itu nyebur ke kolam dulu baru belajar berenang. Dengan modal awal 5 juta dan beberapa kali top up aku jadi investor dan kadang juga trader di pasar modal. Karena modalnya cekak dan waktu itu 1 lot 500 lembar jadi seringkali aku hanya sanggup beli 1 lot saham, naik 3 atau 4 tick sudah jual, namanya juga newbie.
Lambat laun market mendewasakan aku dan investasi di pasar modal terus saya lakukan sampai tahun 2016 walaupun secara teknikal belum paham juga. Pada waktu itu aku sedang dalam usaha untuk membeli rumah di Kota Surabaya yang menurutku mahal (dibandingkan dengan uang yang aku punya). Akhirnya semua investasi mulai dari logam mulia, reksadana, sampai saham terjual untuk membayar uang muka yang besarnya hampir 50% harga rumah. Awalnya aku ragu bisa membayar uang muka yang nominalnya fantastis, tapi karena selama ini telah rajin melakukan investasi ternyata nominal itu tercapai juga. Bersyukur di awal kerja aku ketemu dengan orang-orang yang sudah memahami pentingnya investasi. Tabungan sahamku di MOST juga berkembang dengan cukup baik pada saat saya menjualnya. Ada satu portofolio saham saya yang sangat menguji kesabaran sekaligus mendewasakan, yaitu BNBR. Dulu beli BNBR di awal masuk pasar modal, saat itu emiten ini masih merupakan gorengan crispy, saya masuk ke situ karenya hype saja dengan nominal sedang. Karena kesibukan akhinya ga kekontrol lagi emiten ini yang akhirnya berada pada harga “gocap” selama bertahun-tahun. Ingin rasanya menjualnya tapi apa daya ga ada yang menampung. Jadi ketika butuh uang untuk uang muka rumah, BNBR tidak bisa aku jual.
Setelah melakukan pembelian rumah aku sudah mulai vacuum untuk berinvestasi karena focus utama saat itu adalah bagaimana untuk melunasi KPR secepat yang aku bisa. Semua penghasilan baik itu gaji ataupun non gaji langsung masuk ke rekening untuk pelunasan KPR.
Menjelang tahun ke 4, KPRku sudah menunjukkan hilal akan lunas. Tahun 2020 awal tinggal sedikit sisa outstanding yang harus dibayar dan bisa ditutup dengan menyisihkan gaji bulanan. Memasuki triwulan 2 tahun 2020 KPR lunas dan covid meledak. Pasar modal langsung longsor gak ada rem nya, dan karena saat itu KPR sudah lunas jadi bisa lah untuk melakukan pembelian saham lagi. Sebuah kesempatan emas bagiku waktu itu, walaupun dengan dana terbatas hasil menyisihkan gaji akhirnya bisa beli saham lagi. Pilihanku waktu itu jatuh pada emiten bluechip seperti 4 big bank, dan consumer good ICBP dan INDF. Secara cukup konsisten aku menabung di emiten tersebut, dengan metode dollar cost averaging.
Awal tahun 2021 aku mendundurkan diri dari bank BUMN tersebut dan memperoleh “pesangon” untuk bekal menghadapi kehidupan mendatang. Sebagian dari dana tersebut saya alokasikan di pasar modal melalui MOST dengan membeli emiten blue chip dan sebagian kecil lagi gorengan crispy. Sampai sekarang aku masih konsisten menjadi investor di pasar modal dengan nominal portofolio berkali lipat dari awal bergabung dengan Mandiri Sekuritas.
Perjalananku di pasar modal tidak mulus, seperti ceritaku di awal “nyangkut” di BNBR sampai saat ini juga belum sepenuhnya bersih. Saya mengalami yang namanya reverse stock di saham ini, 10 saham digabung menjadi 1 saham. Setelah reverse stock 1 saham BNBR bernilai 500, tapi ternyata tidak bertahan lama, setelah itu dibanting lagi di harga 50 yang berarti saya rugi 90%. Apakah aku kapok dengan hal ini? Tentu saja tidak, buktinya sampai saat ini aku masih berkecimpung di pasar modal untuk bekal aku menghadapi masa pensiun nanti. Menurutku pasar modal merupakan salah satu kendaraan financial untuk mencapai tujuan masa depan, dia juga mengajarkanku banyak hal terutama yang berkaitan dengan mental dan psikologis yang sangat bermanfaat baik dalam perjalanan investasi maupun kehidupan. Rencananya aku juga akan megajarkan pasar modal ini kepada anak saya 2 tahun lagi saat usianya mencapai 12 tahun, agar dia bisa mencapai kedewasaan finansial lebih dahulu daripada Ibu dan Ayahnya dulu.
-Dari Aku-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar