Berdasarkan pengalaman, ada beberapa barang yang sepertinya penting namun ternyata ga kepakai sama sekali ketika beribadah haji. Inilah barang-barang yang aku bawa namun ternyata ga kepakai waktu haji.
1. Kipas angin elektrik mini
Barang pertama yang ternyata ga kepakai adalah kipas angin mini elektrik. Kebayang Makkah dan Madinah kan panas ya, akan enak kali ya kalau pakai kipas mini eletrik. Ternyata pas sampai sana udaranya emang panas tapi kering, jadi kalau pakai kipas angin aja yang muter tetep aja udara kering jadi ga ngefek. Menurut saya lebih enak pakai botol semprotan air dibandingkan kipas angin biasa. Di sekitar masjid kipasnya ternyata juga dilengkapi dengan uap air biar kerasa ademnya, kalau angin aja kayaknya kurang membantu.
2. Sepatu thawaf
Barang yang sepertinya akan kepake tapi ternyata engga terlalu berguna adalah sepatu thawaf. Awalnya kebayang kalau thawaf dan sai kan di dalam masjid jadi biar empuk lebih enak kalau pakai sepatu khusus thawaf yang emang cuma kepake di masjid. Memang enak sih kalau pakai sepatu ini, tapi di tengah suasana thawaf yang ramai, sepatu kita iku akan rawan terinjak jamaah di belakang kita yang ujungnya bikin sepatu copot, dan kalau sudah begitu akan susah bagi kita untuk memakai lagi saking padatnya. Akhirnya untuk thawaf saya lebih nyaman pakai kaos kaki saja, kalau yang laki-laki lebih enak telanjang kaki. Pada waktu sa'i udah bisa itu sepatu biasa dipakai lagi, atau bisa juga tetep seperti pada saat thawaf. Sebagai informasi, di masjidil Haram, tidak ada batas dimana alas kaki harus dilepas seperti waktu di Nabawi, jadi ada juga itu jamaah yang baru lepas alas kaki ketika mau menginjak karpet.
3. Setrika portable
Ketika di tanah air kita pasti pengen pakaian kita mulus dan rapi, dan hal itu juga yang pengen kita terapkan ketika beribadah. Tapi manusia hanya bisa berencana, tetap realitas mengalahkan semuanya. Bersadarkan pengalaman, bisa nyuci ketika ibadah adalah merupakan anugerah, beruntung selama di Madinah dan Makkah saya bisa melakukan kedua aktifitas tersebut. Tapi untuk setrika rasanya ga perlu deh, soalnya karakteristik baju-baju tersebut sebagian besan memang ga terlalu butuh setrika. Selain itu waktu beneran berada disana fokus kita bukan lagi baju rapi atau engga (kalau bersih udah pasti ya). Baju licin pas dipakai juga akan jadi agak kusut, itulah yang menguatkan tekad untuk tidak perlu menyetrika baju. Selain itu daripada waktu luang digunakan buat setrika, mendingan dipakai buat istirahat atau jalan-jalan (belanja) hehehe...
4. Handuk Reguler
Barang ini sepertinya penting tapi ternyata tidak sepenting itu kok. Hotel di Madinah dan Makakah sudah menyediakan handuk. Untuk jamaah haji mungkin merasa kalau perlu handuk buat mandi di Arafah dan Mina (saat mabit). Pada kenyataannya antrian kamar mandi di Arafah luar biasa sekali sehingga sebagian besar jamaah ga ada kesempatan buat mandi. Sedangkan di Mina, jumlah kamar mandi juga lebih terbatas lagi daripada di Arafah sehingga perlu keteguhan hati kalau mau mandi. Dan walaupun ga mandi insyaAllah teman-teman ga protes, paling diri sendiri aja yang merasa lengket. Jadi kalaupun pengen bawa, lebih baik yang tipis aja yang penting ada.
Sekian sharing kali ini, Bismillah Allah ijinkan teman-teman sekalian untuk berziarah ke Madinah dan Makkah, amiin ya robbal alamiin.
-dari aku-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar