Assalamualaikum, apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat dan bahagia bersama orang-orang tercinta. Udah lama banget ga update di blog ini karena alasan yang diada-adakan, ya memang yang paling sulit dari sebuah project (apalagi kalau sifatnya sukarela) adalah KONSISTEN atau kalau dalam Islam biasa dibilang istiqomah.
Walaupun sudah lewat bulannya, ijinkan kali ini aku mau cerita tentang pilah pilih sekolah buat anak, terutama sekolah dasar, karena jenjang inilah yang paling lama diantara jenjang sekolah yang lain (dengan asumsi anaknya ga masuk kelas akselerasi hehehe). Baiklah kita mulai...
Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, SD adalah jenjang terlama dalam pendidikan anak-anak, pada usia itulah aku merasa adalah waktu untuk membangun pondasi untuk anak-anak baik dalam hal kebiasaan, akhlak, maupun akademis. Maka dari itulah pemilihan sekolah dasar menurutku sangat penting. Mau negeri atau swasta semua itu tergantung orang tua dan kondisi anaknya, berikut beberapa pertimbangan dalam pemilihan sekolah dasar buat anak :
1. Kondisi orang tua
Orang tua yang keduanya bekerja, dengan orang tua yang ada salah satunya stay at home menurutku punya pendekatan yang berbeda. Orang tua yang keduanya bekerja dari pagi sampai sore biasanya udah ga sempat lagi buat bantuin anaknya belajar. Kalaupun sempat biasanya juga ga maksimal, soalnya pulang kerja biasanya udah capek belum lagi ditambah urusan domestik. Hal inilah yang sedang aku alami, maka dari itu sekolah swasta yang full day menjadi pilihanku karena pas di rumah ya udah tinggal refresh sekolah dikit-dikit aja, selebihnya aku menyerahkan kepada guru di sekolah.
Waktu dulu aku sekolah di SD negeri, dan ya Alhamdulillah akhirnya bagus-bagus saja. Waktu itu orang tuaku keduanya bekerja, tapi setelah dhuhur sudah di rumah, jadi mereka masih bisa handle anaknya sepulang sekolah, termasuk ngawasin buat ngaji ke masjid di sore hari. Malamnya juga masih bisa dampingi anak-anak buat belajar kelompok sekaligus kerjain PR. Buat orang tua yang salah satunya stay di rumah (full time mom atau freelance yang kerja di rumah) sepertinya bisa juga memilih sekolah negeri buat anak-anaknya dan bisa membersamai anak di luar jam sekolah sehingga nilai-nilai yang kita inginkan bisa masuk ke anak. Hal ini juga bisa meningkantan bonding antara orang tua dan anak dengan banyaknya kebersamaan yang berkualitas.
2. Keuangan orang tua
Jer Basuki Mawa Bea, kalau pengen bagus maka perlu biaya. Pertimbangan selanjutnya untuk memilih sekolah anak adalah kondisi keuangan orang tua. Sebagaimana kita tau kalau saat ini pemerintah membebaskan biaya di sekolah negeri. Mungkin kalaupun perlu biaya hanya untuk pembelian seragam dan buku. Bahkan beberapa sekolah negeri ada yang memberikan subsidi seragam kepada siswa untuk menarik minat.
Untuk sekolah swasta pastinya butuh biaya yang lebih tinggi. Tapi tenang saja, sepanjang pengamatanku range biaya sekolah swasta ini juga lebar banget. Ada yang SPP nya mulai 100 ribu, tapi banyak juga yang jutaan dan banyak juga peminatnya. Ingat juga kalau biaya di sekolah swasta itu gak cuma SPP saja, tapi ada uang kegiatan, uang gedung, dan beberapa uang lainnya. Beberapa sekolah wasta di Kota Surabaya sudah mulai membuka pendaftaran jauh hari sebelum musim penerimaan siswa baru. Antara bulan Oktober sudah ada yang membuka pendaftaran siswa baru. Dan biasanya kalau sudah begitu, biaya untuk masuk sekolah juga sudah harus dibayar beberapa saat setelah anak dinyatakan diterima. Jadi kalau mau sekolah di swasta uangnya harus disiapkan jauh-jauh hari biar ga kelabakan pas dibutuhkan.
3. Lingkungan yang diinginkan
Lingkungan sekolah merupakan faktor yang biasa dipertimbangkan dalam pemilihan sekolah. Sekolah negeri mempunya lingkungan yang biasanya lebih heterogen, berasal dari berbagai kelas masyarakat dengan berbagai kebiasaan. Di sekolah negeri anak-anak akan berbaur dengan teman yang sangat beragam, dan ini akan memperkaya khasanah pergaulan. Mungkin sekarang jumlahnya sudah agak berkurang, beberapa waktu yang lalu ada yang dikenal dengan sekolah negeri favorit, untuk sekolah ini biasanya lingkungannya lebih heterogen karena ada saringan kemampuan untuk menjadi siswa disitu, namun karena sekarang berlaku sistem zonasi sehingga biasanya siswa sekolah negeri banyak berasal dari daerah sekitar.
Kalau sekolah swasta tentunya punya siswa yang pastinya lebih heterogen. Sekolah yang berbasis agama, semua siswanya biasanya seagama. Hal ini membuat pergaulan anak-anak lebih terjaga, tapi bisa jadi membuat mereka kaget ketika dihadapkan dengan lingkungan yang keras.
Dari sisi pengajar beberapa juga terdapat perbedaan, tapi tidak berlaku untuk semuanya ya. Biasanya guru di sekolah swasta, apalagi yang biayanya cukup mahal akan lebih sabar dan telaten dalam meng-handle anak-anak. Karena kalau mereka ga jadi "malaikat" orang tua juga akan enggan menyekolahkan anak disitu. Hal ini aku rasakan ketika beberapa waktu lalu anak-anak school from home. Gurunya kelihatan banget kalau berusaha kasih pendidikan ke anak-anak dengan segala keterbatasan.
4. Jarak rumah ke sekolah
Last but not least, jarak rumah ke sekolah juga merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan, apalagi untuk keluarga yang ga punya asisten. Beruntunglah orang-orang yang rumahnya dekat dengan sekolah yang diinginkan jadi ibaratnya "ngesot" udah sampai sekolah. Anak-anakku sekolahnya lumayan jauh dari rumah jadi diputuskan untuk langganan antar jemput yang di koordinir oleh sekolah yang mana otomatis juga akan menambah biaya.
Pendidikan adalah investasi. Bukan investasi orang tua kepada anak yang akan dipanen saat orang tua berada di usia senja, namun pendidikan itu sendiri adalah investasi yang bisa diberikan orang tua kepada anak agar mereka bisa survive di kehidupan masa depan. Memberikan pendidikan dan fasilitas yang bagus ke anak rasanya merupakan keinginan setiap orang tua, tapi yang harus diingat adalah anak bukan investasi (bolehlah kalau investasi akhirat yang akan mendoakan orang tuanya), sehingga tetap harus mempersiapkan masa tua nanti. Memberi pendidikan terbaik dengan biaya yang masih bisa ditanggung, jangan sampai karena mengejar gengsi akhirnya malah keteteran.
-dari aku-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar