Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

14 Maret 2022

Kenalan dengan Reksadana, Mana yang Cocok untuk Tujuan Keuanganmu?


Hallo apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan bahagia bersama orang-orang tersayang.


Pada tulisan beberapa waktu lalu yang bisa dibaca di sini tentang investasi untuk pegawai kali ini aku mau ngajakin kenalan sama instrumen investasi nomor 4 di tulisan tersebut yaitu Reksadana. Aku mengibaratkan tujuan keuangan kita itu adalah tempat yang dituju dan uang yang kita punya adalah mobil atau kendaraan. Kita pasti pengen dong sampai tujuan dengan selamat dan tepat waktu. Bagus banget kalau kita punya kemampuan dan waktu untuk nyetir senidiri, artinya kita kelola sendiri uang yang dipunya untuk mencapai tujuan. Nah bagi yang super sibuk atau belum mempunyai kemampuan dan waktu yang memadai bisa hire "supir" bernama manager investasi. Mungkin namanya mentereng ya manager investasi, tapi sebenarnya tidak se rumit itu kok, dengan membeli reksadana otomatis kita sudah membayar manager investasi untuk mengelola uang kita.


Sebagaimana supir kendaraan, manager investasi juga bermacam-macam karakternya. Ada yang pengen cepat sampai dengan cara gas poll dan agak grasak grusuk, ada yang alon-alon waton klakon, ada juga yang santai tapi konsisten, ada juga yang penuh perhitungan biar sampai tepat waktu. Untuk melihat karakter dan kualitas manager investasi kita bisa cek di prospektus, kinerja CAGR reksadana, dan dana kelolaan reksadana tersebut. 


Secara umum reksadana dibedakan menjadi 4 golongan yang akan aku ceritain satu satu di bawah ini :


1. Reksadana Pasar Uang



 

Reksadana pasar uang (RDPU) adalah reksadana yang portofolio investasinya berupa produk-produk pasar uang. Kalau dilihat dari gambar disampaing yang merupakan beberapa produk RDPU terlihat bahwa tingkat return nya tidak yang terlalu fantastis tap lumayan lebih tinggi jika dibandingkan dengan deposito di bank konvensional.Kelebihan RDPU ini jika dibandingkan dengan deposito, walau return nya sama namun di produk ini adalah tidak dikenakan pajak, sementara pada deposito dikenakan pajak sebesar 20% dari bunga.


Di samping ini adalah salah satu RDPU yang dijual di Bibit yaitu Sucorinvest Sharia Money Market Fund. Kalau belum punya akun di Bibit bisa cek artikel ini untuk cara daftarnya.Dilihat dari grafik, hampir semua RDPU bentukannya seperti ini, lurus mengarah ke kanan atas yang menandakan stabilitas tapi pelan-pelan. Dengan grafik seperti ini menandakan bahwa produk ini sesuai untuk "pemilik mobil" dengan karakteristik konservatif. Proses pembelian dan penjualan reksadana ini juga cukup singkat sehingga menawarkan fleksibilitas yang tinggi, ditambah lagi dengan grafiknya yang lurus sehingga mengurangi risiko fluktuasi harga sehingga bisa dicairkan kapanpun kita butuh dana cash. Reksadana ini mulai bisa dibeli dengan nominal Rp. 10.000,- sampai terserah jumlah uang kita ada berapa. 


Pada gambar diatas CAGR menunjukkan kenaikan return selama 1 tahun, sedangkan Total AUM menunjukkan seberapa besar "mobil" yang disetirin sama manager investasi tersebut. Semakin gede nilainya maka si supir semakin dipercaya oleh pemilik mobil.


2. Reksadana Pendapatan Tetap


Reksadana pendapatan tetap (RDPT) adalah reksadana yang minimal investasinya 80% ke instrumen obligasi, maka dari itu banyak yang menyebutnya Reksadana Obligasi. Bisa dilihat pada gambar disamping, return dari reksadana ini cukup menjanjikan berkisar antara 5%-8%. Investasi RDPT ini juga bisa dilakukan mulai dengan nominal Rp. 10.000,- tergantung jenis reksadana yang dipilih. Untuk beberapa RDPT ada yang minimal Rp. 100.000,- dan Rp. 1.000.000,- bisa disesuaikan antara produk dan kemampuan financial.


Disamping adalah salah satu contoh RDPT syariah yaitu Schroder Syariah Balance Fund (SSBF). Secara grafik RDPT lebih fluktuatif dibandingkan produk RDPU dan kalau dilihat pada sisi CAGR selama 1 tahun terakhir masih minus, tapi kalau kita belinya secara bertahap dan banyak beli saat harganya sedang dibawah (sekitar bulan Juli 2021) maka insyaAllah saat ini kita sudah untung. Manager investasi mempunyai 2 pihan dalam pembelian obligasi, bisa yang diterbitkan oleh negara atau perusahaan. Obligasi negara lebih aman namun biasanya return nya lebih kecil, dan karena bisa diperdagangkan di pasar sekunder jadi harganya bisa fluktuatif, dan ini tercermin dari grafik diatas. Pembelian RDPT ini juga membuka kesempatan "wong cilik" untuk ikutan membeli obligasi dengan uang yang terbatas (mulai Rp. 10.000,-) karena kalau kita beli ORI langsung minimal pembeliannya adalah Rp. 1.000.000,-.


Setelah sebelumnya aku suka banget sama Sucorinvest Stable Fund (SSF), kemarin baru tau kalau ternyata ada yang grafiknya mirip SSF tapi syariah yaitu Sucorinvest Sharia Sukuk Fund (SSSF). Berbeda dengan grafik SSBF diatas, produk ini lebih stabil. Tapi ya karena baru dikeluarkan pada pertengahan November 2021 jadi kinerjanya masih belum diketahui. Sepertinya produk ini cukup banyak peminat karena hanya dalam beberapa bulan Total AUM sudah mencapai Rp. 434 Milyar. Biasanya RDPT yang punya grafik stabil, dananya banyak dialokasikan ke obligasi korporasi yang memberikan return lebih tinggi daripada pemerintah dengan fleksibilitas yang lebih terbatas. Gimana kinerja dari Sucorinvest Sukuk ini? Mari kita coba dulu dan lihat hasilnya... 


Karena tidak semua RDPT punya grafik yang mulus kayak SSF dan SSSF maka reksadana ini sesuai untuk orang dengan profil risiko moderat dengan tujuan keuangan yang ditargetkan dalam waktu 1-3 tahun. Untuk penjualan RDPT ini memerlukan waktu yang lebih lama dari RDPU yaitu sekitar 3-7 hari.


3. Reksadana Saham 


Reksadana saham (RDS) merupakan reksadana yang memiliki portofolio berupa saham dari perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau bursa efek luar negeri. RDS merupakan salah satu jenis reksadana yang banyak diminati karena memberikan imbal hasil yang relatif tingi. Manajer investasi biasanya menempatkan lebih dari 90% dana kelolaannya di instrumen saham, dan sebagian kecil banget di instrumen pasar uang. Maka dari itu RDS ini sangat berfluktuasi dan biasanya sejalan dengan kondisi IHSG, high risk high return.


Secara garis besar RDS bisa dibagi menjadi 2 yaitu RDS Aktif dan RDS Pasif. Manajer investasi RDS Aktif biasanya menempatkan dananya pada saham yang sedang aktif atau bisa di semua saham baik yang blue chip ataupun yang gorengan. Sementara manajer investasi RDS Pasif menempatkan dananya di saham yang ada di indeks tertentu sehingga biasanya pergerakan harganya akan mengikuti indeks tersebut, sebagai contoh BNI-AM Indeks IDX30. Karena mengikuti indeks biasanya expense ratio atau fee manajer investasi yang dikenakan juga relatif kecil.


Reksadana dikeluarkan dengan harga awal Rp. 1.000,-/unit. Seperti dilihat dari gambar disamping, RDS BNI-AM Indeks IDX30 mengalami penurunan harga jika dibandingkan pertama kali diluncurkan pada Januari 2018 hingga saat ini. Lantas apakah beli produk ini bakalan rugi? Jawabannya belum tentu, bisa saja untung kalau kita beli waktu harganya sedang murah contohnya pada Januari 2020. Dengan fluktuasi yang seringkali membuat deg-degan, menurutku RDS ini sesuai untuk investasi jangka panjang dengan waktu diatas 5 tahun dan pembeliannya dengan cara cicil bertahap atau biasa dikenal dengan dollar cost averaging.


4. Reksadana Campuran


Reksadan campuran menerikan fleksibilitas kepada manajer investasi untuk menempatkan dana di instrumen yang mereka anggap memberikan cuan yang optimal. Contohnya Jarvis Balanced Fund seperti gambar disamping ini 77% di saham, 21% di pasar uang, dan 2% di instrumen obligasi, hal ini bisa berbeda untuk masing-masing produk tergantung manajer investasinya. Kalau kondisi pasar modal sedang bagus bisa saja manajer investasi banyak mengkalokasikan dana di saham, namun apabila IHSG sedang longsor bisa saja porsinya akan lebih banyak ke obligasi atau pasar uang.


Dari gambar ini kita bisa melihat kalau reksadana campuran juga mempunyai fluktuasi yang cukup tinggi. Maka dari itu strategi untuk membeli saham ini bisa disamakan dengan RDS yaitu beli bertahap atau dollar cost averaging. Kemudian untuk jangka waktu menurutku sesuai untuk yang diatas 3 tahun. 

Belinya kan sudah, trus kapan jualnya? Reksadana yang diperuntukkan untuk tujuan tertentu bisa dicairkan kalau sudah tiba saatnya kita akan merealisasikan tujuan tersebut. Tapi kalau emang silau dengan keuntungan yang sudah tinggi ya bolehlah direalisasikan, tapi jangan lupa harus segera di switch ke instrumen/reksadana lain biar uangnya tetep sesuai tujuan.


Sekian cerita tentang reksadana, semoga bermanfaat dan membuat kita lebih tertib dalam financial planning.


-Dari Aku-

 


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman