Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

11 Februari 2022

Langkah-langkah untuk Menyelesaikan Hutang Konsumtif

--Sumber : Istimewa-- 



Hallo semuanya apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat bersama orang-orang tersayang.

Aku pernah dengar ada orang yang bilang "hutang itu bikin kerja jadi makin semangat, soalnya kita bakalan punya motivasi yaitu buat bayar hutang". Ada benernya juga sih, hutang produktif atau hutang untuk beli aset seperti rumah atau kendaraan yang memang menunjang kehidupan dan pekerjaan akan membuat kita jadi lebih semangat kerja. Btw sebenarnya secara garis besar orang bisa dibagi menjadi 3 golongan, yang pertama adalah yang emang suka berhutang, kedua yang benci berhutang, dan ketiga adalah yang mau ga mau harus berhutang. Oke skip aja kalau yang nomor 3 semoga kita ga termasuk golongan itu. Kalau hutang produktif bisa bikin semangat, aku rasa hal sebaliknya berlaku dengan hutang konsumsi. Hutang konsumsi ini kan tidak ada bentuk outputnya karena habis pakai, jadi si debitur berasa bayar angsuran tapi berasa gak dapat apa-apa. Nah ini yang bisa bikin karyawan jadi demotivasi karena uangnya habis buat bayar angsuran. 


Dari apa yang aku amati dan pelajari (mudah-mudahan ga perlu mengalami) ada beberapa jalan yang bisa ditempuh bagi seseorang atau keluarga yang terlanjur terjebak dalam hutang konsumtif sebagai berikut :


1. Bikin rancangan keuangan keluarga (penerimaan dan pengeluaran)

Dari jaman kecil aku sudah dikasih pemahaman bahwa jangan sampe hidup ini besar pasak daripada tiang, besar kebutuhan daripada pendapatan. Beberapa financial planner juga bilang kalau sebenarnya biaya hidup murah, yang mahal adalah biaya pamer. Aku amati di kehidupan sehari-hari, harga makanan itu range nya lebaaaar banget, ada yang super murah tapi kalau pengen ngabisin gaji buat 1x makan juga bisa, begitu juga dengan beberapa kebutuhan pokok lainnya. 


Jadi langkah yang biasa aku lakukan biar pasak dan tiang seimbang adalah bikin rencana pengeluaran soalnya pemasukanku relatif fix, ga ada uang dadakan yang tiba-tiba dapat gitu. Biasanya aku tarik sejumlah uang dan masukin ke amplop untuk masing-masing pos pengeluaran operasional seperti belanja harian, arisan, jajan di kantor, dan bensin. Metode ini memang kuno sih tapi so far ini sangat membantuku. Biaya sekolah anak-anak juga diusahakan transfer ke sekolah diawal bulan biar tenang, hal ini berlaku juga buat tabungan rutin, langsung dialokasikan di awal bulan. Setelah semua pengeluaran terduga selesai dapat anggaran dan dana, baru kalau ada sisa uang di rekening bisa kita pakai buat HORE (istilah pribadiku) kayak belanja di marketplace, makan fancy, dll pokoknya secukupnya uang itu aja. Kalau ada yang punya cara berbeda dan dirasa cocok juga boleh loh share di kolom komentar :). 


2. Menyesuaikan jangka waktu hutang dengan masa manfaat sesuatu yang dibiayai

Ada yang bilang dan pernah baca untuk menghindari pinjaman jangka panjang untuk membiayai kebutuhan jangka pendek. Contohnya begini, seorang orang tua yang ga ada uang untuk membiayai biaya semeteran sekolah anaknya ambil pinjaman dengan jangka waktu angsuran 1 tahun. Hal ini jelas ga cocok, kebutuhan semesteran adalah 6 bulan sedangkan angsurannya 1 tahun. Kalau begini caranya di pembayaran semester berikutnya bisa jadi angsuran hutang lama belum selesai, udah harus ambil hutang baru buat bayar sekolah. Sebenarnya kalaupun memang ga ada uang, ada baiknya jangka waktunya disamakan, jadi buat bayar semesteran jangka waktu pinjamannya juga 6 bulan.


Menurut pendapatku yang sangat subyektif, sebenarnya uang sekolah ini bisa direncanakan karena merupakan pengeluaran yang pasti dan harus dipenuhi. Untuk pos seperti ini harusnya kita bisa menyisihkan penghasilan secara rutin, jadi pas waktunya bayar uang sekolah uangnya sudah terkumpul dan ga bingung cari pinjaman lagi.


3. Bikin daftar asset yang dimiliki

Hutang konsumtif biasanya ga ada bentukan barangnya jadi kalau di neraca suka ga ada lawan dari hutang itu, contonya hutang buat bayar sekolah. Mengutip dari gaya hidup mimimalism, kita diharapkan hanya menyimpan barang-barang yang sparks joy, yang engga bisa kita singkirkan (dijual atau diberikan ke orang lain). Dalam hal orang yang berhutang konsumtif, pendekatan ini bisa digunakan juga.


Catat asset yang kita miliki kayak rumah, tanah, kendaraan, atau handphone. Pilah dan pilih mana yang sparks joy...itu yang dipertahankan, yang lain bisa dijual untuk melunasi hutang konsumtif. Misalnya gini, Mr. X punya hutang 20 juta buat beliin Iphone terbaru buat anaknya. Nah sebenarnya di rumah dia tuh ada 3 hp android nganggur yang sebenarnya sudah ga kepakai lagi dan kondisinya masih layak jual. Daripada nih barang ga sparks joy lagi mendingan dijual aja dan uangnya buat tutup sebagian hutang. Kalau misalnya ada barang lain kayak sepeda gunung atau sepeda motor yang jarang dipakai, bisa juga tuh dijual buat nutup hutang. Intinya adalah mengunakan sumber daya yang ada, kalaupun benda itu dijual ga akan mengganggu kehidupan dan pekerjaan ya udah lebih baik dipakai buat nutup hutang.


4. Lunasi hutang semaksimal yang dibisa

Bagi karyawan, dapat uang diluar penerimaan rutin dari kantor itu rasanya sesuatu banget. Nah sebenarnya kalau lagi punya pinjaman, kita bisa loh pakai penerimaan tak terduga ini buat pelunasan sebagian. Pilih yang pelunasan ini mengurangi jangka waktu pinjaman jadi biar cepetan selesai. Soalnya kadang di beberapa orang penerimaan tak terduga ini dipakai buat hura-hura dan lupa kalau sebenarnya mereka masih punya kewajiban.


Selama masih punya hutang ada baiknya kita hidup hemat dan berusaha untuk menyisihkan sebagian sisa uang untuk tambahan cicilan hutang biar cepat selesai. Kalau misalnya pelunasan sebagiannya ga bisa tiap bulan karena ada minimal pembayaran, kita harus sabar ngumpulin dan ga boleh utak atik uang itu sampai bisa memenuhi nilai minimal yang diijinkan oleh kreditur.


5. Hidup sesuai kemampuan, ga usah terlalu memaksakan diri

Ini sebenarnya konsep yang paling penting, hidup sesuai kemampuan ga usah maksa kalau itu akan menyusahkan diri sendiri. Untuk barang-barang konsumsi, kalau kita ga bisa beli barang itu secara cash, berarti kita emang belum layak buat pakai barang itu. Trus emang ga boleh apa beli barang mahal? Boleh aja sih...tapi nabung, kumpulin dulu uangnya baru deh beli cash. 


Kalau emang mampu beli kerudung Umama, ga usah pinjem ke teman hanya buat beli kerudung Button Scarf. Kalau uangnya hanya cukup buat beli makanan di Mie Gacoan, ga usah gesek kartu kredit hanya untuk bisa makan di Kintan Buffet. Kalau tabungan yang ada hanya cukup buat beli motor Supra, ga usah ambil utang di bank biar bisa beli motor N-Max. Ya gitu deh bestie...terkadang kita harus tau level kita biar ga terjerat hutang yang ga perlu. Dari ketiga contoh diatas toh mau mahal atau murah barang yang kita beli, ujungnya sama saja : menutup aurat, kenyang, dan sampai di tujuan dengan naik kendaraan.


Sekali lagi...bukannya gak boleh mimpi beli barang mahal, tapi kalau memang belum bisa bayar cash, berarti untuk saat ini kita emang belum pantas. Makanya yuk kerja keras, cari side hustle, dan rajin menabung :)


Udah dulu ya cerita kali ini, mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan atau merasa ga cocok sama sudut pandangku. Semoga bisa kasih perspektif buat kita biar hidup lebih tenang tanpa hutang.


-Dari Aku-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman